Konnichiwa!!
Home Profile Archive Contact me Follow Dash

  The First Mission
     Posted on Sabtu, 12 April 2014 at 00.00 | 0 comment(s)  


"Adzira Paramitha agar segera ke ruang BK sekarang, sekali lagi Adzira Paramitha agar segera ke ruang BK sekarang, terima kasih" toa berbunyi. Dan kali ini, untuk kesekian kalinya nama gadis bengal itu dipanggil lagi. Dia hanya tertawa mendengar namanya dipanggil. Dengan usilnya, dia melambaikan pelan tangannya dan terciptalah debu yang bertebaran ke anak-anak lain yang sedang berjalan di area itu.
Lalu, dia berlari menuju ruang BK di lantai dua.
"Pagi, Bu," sapanya.
"Pagi, Meta. Silahkan duduk di sini," susruh si Ibu.
"Jadi, ada apa, Bu?" tanyanya.
"Jadi, Meta tentunya kamu tau kamu sudah berulang kali bertatap muka dengan kepsek, 'kan? Ini adalah hal yang paling langka terjadi selama sekolah ini berdiri." terang Ibu BK.
"Ya, terus?" sahut gadis itu.
"Dengarkan lagu ini," Ibu BK memutar tape yang ada di sebelahnya dan sebuah alunan lagu yang kental dengan kenangan masa kecil berbunyi. Entah dia membuat itu sendiri atau mengunduhnya. Yang jelas, alunan lagu itu sangat mengingatkan gadis itu dengan kenangan masa kecilnya.
"Resapi lagu ini dalam-dalam. Ingat kenangan masa lalu kamu." perintahnya.
"Gak mau," bantahnya.
"Dengarkan saja, Meta. Ini untuk merubah sifat kamu," pinta Bu BK lembut.
"Bu, saya bilang gak mau! Ibu begini karena Ibu kasian, 'kan dengan Ibu Kepsek yang kewalahan negor saya dan notabene adalah orang tua Ibu sendiri?! Maaf Bu. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Permisi, selamat pagi," bantahnya.
Ia lalu keluar dari ruangan BK dan berpapasan dengan Bapak BK yang notabene suami Ibu BK.
Di depan tangga banyak berserakan sampah. "Semuanya malas, petugasnya saja malas. Semuanya tercemar!,"
Dia duduk di depan tangga. "Mungkin, jika sampah ini ada di depan ruang kepala sekolah, pasti akan dibersihkan. Ya, ide yang cemerlang Meta." fikirnya.
Lalu, dengan santai ia melembaikan tangannya pelan lalu memutarnya dan mendorong ke arah ruangan kepala sekolah. Angin yang lumayan besar dengan ajaib muncul dan menggiring sampah-sampah itu ke depan ruangan kepala sekolah. Bahkan, pintu ruangan kepala sekolah saja sampai tertutup karena mungkin angin itu.
Tak lama kepala sekolah keluar, dan gadis iseng itu langsung bersembunyi. Kepala sekolah kaget melihat banyaknya sampah di depan ruangannya. Ia lalu memanggil cleaning service sekolah. Dan seperti yang telah diduga gadis itu, sampahpun dibersihkan.
"Benar, 'kan. Hanya jika dia terganggu saja dia akan berusaha. Jika tidak. Mana mau!. Good job, Meta. Misi hari ini sukses. Tinggal 9 misi lagi yang harus diselesaikan sebelum pindah dari sekolah ini." ujarnya puas. Lalu ia berjalan menuju kelasnya santai. Dan semua yang ada di sekitarnya bergerak seperti terkena angin.




0 comment (s) | Jom comment (s)


  Wind Control: 10 Missions [EPILOG]
     Posted on Jumat, 11 April 2014 at 22.45 | 0 comment(s)  


Seorang gadis degan rupa yang manis. baru saja ia pulang dari, ya mungkin sekolahnya. dia nampak tersenyum, seakan puas dengan hari yang telah ia lalui tadi.
dia pulang dengan sepeda bututnya, meski dia adalah orang kaya. dia menopangkan kakinya dia atas frame sepedanya, bukannya mengayuhnya. tangan sebelah kanannya lepas dari stang dan diayunkannya seperti orang yang sedang menikmati air saat berada di perahu. ya kurang lebih seperti itu. tanaman atau apapun yang didekat tangannya bergerak gemulai seperti ada angin yang menerpanya. padahal hari saat itu sedang tak berangin.
"Lagi, Meta?," sapa seorang wanita tua yang sedang santai di depan rumahnya.
gadis itu tersenyum dan mengangguk, "ya, seperti biasa Nyonya Rieke. Mari, Nyonya," sapanya balik.
Tak lama ia sampai di rumahnya. Ia memarkir sepeda bututnya di dalam garasi samping rumahnya. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya. Ia disambut ayahnya di rumah dengan ekspresi yang tak mengenakan untuk dilihat.
"Siang, Ayah. Telfon lagi? Biasa saja, Ayahku yang tampan. Ayah seperti tak mengerti Meta saja," ujarnya santai sambil melepas sepatunya dan meletakkan tasnya.
"Meta, Meta. Sampai kapan kamu seperti ini, hem? ayah sudah sangat malu untuk bertemu dengan gurumu!," lirih ayahnya dengan sebuah telpon di genggamannya.
"Yasudah, ayah tak usah datang, biar Meta yang urus," jawabnya lagi.
"Sampai kapan kamu begini, Meta?" keluh Ayahnya.
"Entahlah, mungkin sampai Meta menemukan keadilan di sekolah itu," alasannya.
"Itu itu saja alasanmu. sudah tiga kali pindah sekolah alasanmu tak berubah," dengus ayahnya.
"Tak tau Ayah. Kalau Ayah masih nggak percaya Ayah liat saja kepala sekolah Meta. Nyuruh gak pake perhiasan sendirinya toko emas berjalan," dengusnya. "Sudahlah Ayah semoga hari Ayah menyenangkan. Ohya, Ayah. Lebih baik Ayah besok ke sekolah saja, sekalian Ayah antar Meta. Meta sudah lama gak sama sama Ayah. Sudah, ya Yah. I Love You~" sambungnya.
"Meta, Meta. Sampaibila ini akan berakhir?" keluh Ayahya lagi.




0 comment (s) | Jom comment (s)


  Wind Control: 10 Missions [EPILOG]
     Posted on Jumat, 11 April 2014 at 22.45 | 0 comment(s)  


Seorang gadis degan rupa yang manis. baru saja ia pulang dari, ya mungkin sekolahnya. dia nampak tersenyum, seakan puas dengan hari yang telah ia lalui tadi.
dia pulang dengan sepeda bututnya, meski dia adalah orang kaya. dia menopangkan kakinya dia atas frame sepedanya, bukannya mengayuhnya. tangan sebelah kanannya lepas dari stang dan diayunkannya seperti orang yang sedang menikmati air saat berada di perahu. ya kurang lebih seperti itu. tanaman atau apapun yang didekat tangannya bergerak gemulai seperti ada angin yang menerpanya. padahal hari saat itu sedang tak berangin.
"Lagi, Meta?," sapa seorang wanita tua yang sedang santai di depan rumahnya.
gadis itu tersenyum dan mengangguk, "ya, seperti biasa Nyonya Rieke. Mari, Nyonya," sapanya balik.
Tak lama ia sampai di rumahnya. Ia memarkir sepeda bututnya di dalam garasi samping rumahnya. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya. Ia disambut ayahnya di rumah dengan ekspresi yang tak mengenakan untuk dilihat.
"Siang, Ayah. Telfon lagi? Biasa saja, Ayahku yang tampan. Ayah seperti tak mengerti Meta saja," ujarnya santai sambil melepas sepatunya dan meletakkan tasnya.
"Meta, Meta. Sampai kapan kamu seperti ini, hem? ayah sudah sangat malu untuk bertemu dengan gurumu!," lirih ayahnya dengan sebuah telpon di genggamannya.
"Yasudah, ayah tak usah datang, biar Meta yang urus," jawabnya lagi.
"Sampai kapan kamu begini, Meta?" keluh Ayahnya.
"Entahlah, mungkin sampai Meta menemukan keadilan di sekolah itu," alasannya.
"Itu itu saja alasanmu. sudah tiga kali pindah sekolah alasanmu tak berubah," dengus ayahnya.
"Tak tau Ayah. Kalau Ayah masih nggak percaya Ayah liat saja kepala sekolah Meta. Nyuruh gak pake perhiasan sendirinya toko emas berjalan," dengusnya. "Sudahlah Ayah semoga hari Ayah menyenangkan. Ohya, Ayah. Lebih baik Ayah besok ke sekolah saja, sekalian Ayah antar Meta. Meta sudah lama gak sama sama Ayah. Sudah, ya Yah. I Love You~" sambungnya.
"Meta, Meta. Sampaibila ini akan berakhir?" keluh Ayahya lagi.




0 comment (s) | Jom comment (s)


Credit
Template      :  Leyna Lim
Editor           :  Candyxxtan
Best view     :  Google Chrome
Online          :  
Pageviews    :